Search for PodcastsRegister | Sign In
 

 

HENING Kasih Kekal-Maret 1, 2006- Mencari Hikmat Episode | Hening Kasih Kekal

PodcastDirectory / Society and Culture / Blogs
PodcastDirectory / Regions / AS / Indonesia



Hening Kasih Kekal

Indonesian Christian Podcasting. Sarana Media Audio/Podcasting untuk Pertumbuhan Rohani Umat Kristen di Indonesia.

Primary Format:
Blogs

Also Listed as:

User Tags:

RSS Feed
Website

Visit Methings.com for the most recent listings of:

HENING Kasih Kekal-Maret 1, 2006- Mencari Hikmat


HENING Kasih Kekal-Maret 1, 2006- Mencari Hikmat

Play Now -->

DATE : Thu, 06 Jul 2006 12:09:37 PDT
Entered in Database : 2006-07-06 19:09:37
length : 1205604
Link to the Show / Show Notes


Marilah mendengarkan:

Hening Kasih Kekal, Maret 1, 2006 [10 min./.mp3/1.2 MB] - Mencari Hikmat.

Tuhan Yesus memberkati.

Hak cipta/Copyright (c) Kasih Kekal www.kasihkekal.org 2006. All rights reserved.

Teks:

Selamat Berjumpa lagi, Sdr sdri yang terkasih. Selamat mendengarkan Hening Kasih Kekal untuk episode Maret 2006. Segala puji dan hormat selalu untuk Dia, Tuhan Yesus Kristus, yang telah memberikan kita sekalian kesempatan ini.

Sdr. Sdri., saya berdoa bahwa Tuhan Yesus tambah hari tambah mencurahkan hikmat-Nya kepada kita sekalian. Mengapa tiba-tiba saya ingin ada hikmat di hidup kita sekalian? Ini bermula dengan suatu teguran dari seorang rekan kepada saya pribadi. Beberapa waktu yang lalu kami berjumpa, dan dia, mungkin tanpa dia sadari, menyampaikan suatu peringatan, nasihat dan wejangan kepada saya. Saya mengerti bahwa apa yang rekan ini katakan untuk saya tepat adanya. Tetapi, terus-terang, hati saya pribadi mengumpat dan tidak bisa menerima. Saya menggerutu kepada istri saya dan mengeluh , “Siapa sih dia ini, memberi nasihat ini dan itu?” Tetapi sungguh beruntung, saya juga mengeluh dalam doa saya. Dan Roh Kudus dengan penuh kasih sayang memberikan ayat berikut di

Amsal 12: 1b tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.

Ayat ini jelas sekali. Tidak ada banyak kata yang lebih keras daripada kata “dungu”. Dan kita semua pasti tidak mau menjadi orang yang dungu atau dengan kata lain orang yang tolol, bodoh atau lebih kasar lagi, goblok. Bagaimana supaya kita tidak seperti demikian? Ayat ini mengajar untuk tidak membenci teguran. Kalau tidak, saya atau siapapun juga adalah seorang yang dungu. Tetapi sebaliknya saya dan saya yakin kita sekalian, mau menjadi seperti seorang yang seperti di ayat berikut:

Amsal 9: 9 berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.

Sdr-sdri, kita sekalian mau menjadi orang yang bijaksana dan bertambah hari, bertambah bijak. Maka sudah jelas bahwa dari ayat-ayat ini, kita sekalian harus belajar memperdulikan nasihat-nasihat. Tidak mudah tentunya. Mungkin ada pertanyaan atau pendapat, bagaimana kalau kita tidak setuju dengan nasihat atau teguran tertentu? Bisa saja bukan bahwa itu nasihat yang tidak baik di hadapan Tuhan? Mari kita baca ayat berikut:

Amsal 10: 8 Siapa bijak hati, memperhatikan perintah-perintah, tetapi siapa bodoh bicaranya, akan jatuh.

Ayat ini menjabarkan bahwa kalau kita mau bijak, kita harus memperhatikan perintah-perintah. Yang saya tekankan adalah kata “memperhatikan”. Kita, terutama saya pribadi, harus belajar mengambil waktu dan memperhatikan sebuah perintah, nasihat atau teguran. Kita renungkan. Kita tanyakan kepada Roh Kudus. Kita periksa apakah sesuai dengan Firman dsb. Intinya, kita ambil waktu untuk memperhatikan. Mungkin saja, itu bukan sebuah nasihat yang tepat. Tidak apa-apa. Yang penting kita ambil waktu. Dengan demikian, pengetahuan kita bertambah dan kita bertambah bijaksana.

Apakah ini mudah? Saya rasa tidak. Pengalaman saya pribadi cenderung untuk langsung membantah. Tetapi ada beberapa sikap yang saya harus belajar bilamana menghadapi situasi seperti ini. Pertama, mari kita baca:

Amsal 11: 2 Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.

Sdr-sdri, hikmat hanya bisa ada di orang yang rendah hati. Bilamana kita angkuh, kita langsung masuk kelompok dungu dan pencemooh. Maka daripada itu, kalau kita di hadapan Tuhan, mengambil waktu untuk bergumul dengan suatu nasihat atau teguran, sudahkah kita merendahkan hati? Memang ini tidak mudah, tetapi,mari, marilah saya dan anda sekalian memeriksa diri di waktu-waktu tersebut.

Sikap yang kedua didapatkan dari pembacaan:

Amsal 4: 7 Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.

Yang saya teliti di ayat ini adalah kalimat “dengan segala yang kauperoleh”. Sdr-sdri, ada faktor di mana kita harus mempergunakan setiap sarana atau fasilitas yang kita punya untuk menimba kebenaran dan kebijaksanaan. Mungkin kita dapat membaca Firman lebih lagi. Mungkin kita dianugrahkan karunia hikmat marifat, maka kita pergunakan itu untuk menimbang-nimbang suatu teguran. Mungkin kita mempunyai banyak waktu lengang, marilah kita pakai itu untuk mengejar dan memperoleh pengertian, baik melalui doa, renungan, sembah-puji atau bahkan mendengarkan Firman Tuhan dari hamba-hamba Tuhan. Mungkin waktu kita banyak tersita berangkat ke atau pulang dar pekerjaan kita; bagaimana kalau kita pakai waktu-waktu tersebut, ingat ini juga bagian sesuatu yang kita peroleh, kita pakai kesempatan ini untuk bertanya kepada Roh Kudus untuk hikmat dan pengertian? Sdr. Sdri, dengan segala hal yang kita peroleh, marilah kita pakai semua ini untuk memperoleh hikmat!

Hal atau sikap yang ketiga yang saya harus belajar, adalah, pada akhirnya, bagaimana kita tahu apakah itu Hikmat Surgawi atau sekedar hikmat dunia? Mari kita baca:

Amsal 8: 34 Berbahagialah orang yang mendengarkan daku, yang setiap hari menunggu pada pintuku, yang menjaga tiang pintu gerbangku.

Sdr-sdri, di sini saya belajar bahwa saya harus menunggu dan menjaga. Apa maksudnya? Ini menunjukkan akan kesabaran dan ketekunan. Harus sabar. Harus tekun. Tetapi sabar dan tekun untuk apa? Mungkin ini bukan suatu pertanyaan yang tepat. Ayat ini berkata tentang orang yang mendengarkan Daku. Dari ayat-ayat sebelumnya, daku di sini adalah hikmat. Jadi pertanyaan yang tepat adalah sabar dan tekun untuk kedatangan Siapa? Sdr-sdri, ternyata hikmat itu bukan suatu prinsip, atau hal yang tidak jelas, tetapi Hikmat itu adalah suatu Pribadi, yaitu Tuhan itu sendiri. Ini luar biasa. Jadi sekarang jelas bahwa dengan mencari Tuhan Yesus, tentunya ini kembali lagi ke yang kita bicarakan sebelumnya, yaitu kita sekalian harus bersabar dan tekun untuk berdoa, membaca Firman Tuhan, menaikkan sembah puji, maka kita sekalian akan menemukan dan mendapatkan Hikmat itu. Terpujilah Nama-Nya.

Dengan ini saya, Jonathan K. Tunggal menutup Hening Kasih Kekal episode Maret 2006 ini. Saya percaya kalau kita sekalian mau merendahkan hati, mengambil waktu, mempergunakan semua yang kita peroleh maka tambah hari, kita sekalian akan bertumbuh dengan kepenuhan Hikmat Surgawi itu. Sampai bertemu lagi di kesempatan yang akan datang.





Play in your Iphone

Roku + Netflix = Instant Movies on your TV


Add a Podcast
Remove a Podcast
Search for Podcasts
Podcast Directory
by Country
by Language
by Buzz
by Popularity
by Category
by Tags
by Region
by City
on a Google Map